Bayang-Bayang Gelap Mengintai Jokowi di Ambang Akhir Kekuasaan
1pn0e5cvchj9ioeoyojmoy-arfo1ccieatcidqgu18q.workers.dev salam sejahtera untuk kalian semua. Pada Detik Ini saya akan mengupas tuntas isu seputar Tekno. Ringkasan Artikel Mengenai Tekno BayangBayang Gelap Mengintai Jokowi di Ambang Akhir Kekuasaan Dapatkan informasi lengkap dengan membaca sampai akhir.
Kekhawatiran Jokowi: Likuiditas Kering, Pertumbuhan Simpanan Melambat
Presiden Joko Widodo mengungkapkan kekhawatirannya menjelang akhir masa jabatannya terkait peredaran uang yang semakin kering. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sekitar 5%, pertumbuhan simpanan bank melambat, terutama pada deposito.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa perlambatan pertumbuhan simpanan dipengaruhi oleh banyaknya alternatif instrumen penempatan dana. Jokowi menilai masalah ini muncul karena Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menerbitkan terlalu banyak instrumen, seperti Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memastikan bahwa likuiditas perbankan lebih dari cukup untuk mendukung penyaluran kredit. Rasio alat likuid per dana pihak ketiga (AL/DPK) per September sebesar 25,4%, lebih tinggi dari rata-rata tahun-tahun sebelumnya.
Namun, likuiditas tersebut menjadi mahal akibat dampak dari suku bunga tinggi. Bank pelat merah, seperti Bank Mandiri (BMRI), menjadikan likuiditas sebagai perhatian utama untuk semester II-2024.
Secara umum, pertumbuhan kredit lebih tinggi dari pertumbuhan funding. Namun, pada Juni-Agustus 2024, pertumbuhan DPK terpantau melambat. Pertumbuhan DPK paling rendah sepanjang 2024 terjadi pada Februari, yakni 5,66% yoy.
Meskipun likuiditas aman, permintaan kredit cukup tinggi. Pertumbuhan kredit secara nasional sekitar 11%-12%, sementara pertumbuhan funding hanya 7%-8%. Hal ini akan mendorong kenaikan LDR secara keseluruhan.
Jokowi mengimbau agar tidak semua pihak ramai membeli instrumen yang diterbitkan oleh BI dan Kemenkeu. Hal ini agar sektor riil dapat terlihat lebih baik dari tahun sebelumnya.
